Tidak semua hal sepenuhnya dapat dikerjakan dengan sempurna, seringkali keterbatasan menemui kita disaat kita dituntut untuk menyelesaikan sebuah tugas secara sempurna, hambatan-hambatan itu dapat timbul dari terbatasnya waktu penyelesaian mengakibatkan kita pasrah terhadap hasil yang telah kita capai meskipun tidak merasa puas.
Janganlah keterbatasan membuat kita pasrah kepada keadaan dan membuat sesuatu itu menjadi asal: asal selesai ..., asal jadi ..., asal ada ..., asal mikir ..., asal biacara ..., asal ... asalan.
Secara sadar sesungguhnya budaya asal itu tidak seharusnya terjadi jika saja kita mau berkorban dan menyadari betapa pentingnya sebuah kesempurnaan. Jika saja asal-asalan itu timbul dari keterbatasan waktu, mengapa batas waktu yang ditentukan untuk penyelesaian itu dibawah batas waktu kesempurnaan manusia untuk membangunnya, bukankah manusia itu tidak seperti dalam legenda sunda “Sangkuriang”, jika batas waktu itu adalah jam kerja mengapa kita tidak mau berkorban untuk mengerjakannya lebih dari waktu formal yang tersedia.
Budaya asal yang berasal dari ketidak adaan, ketika kita ingin membangun sesuatu yang belum pernah ada, seperti kita membangun sekumpulan data atau analisa seringkali keterbatasan hadir membuat sesuatu yang diadakan itu asal ada, mengapa tidak mau membangun secara lebih cermat dengan analisa-analisa ilmiah yang lebih sempurna dan literatur yang lengkap.
Ketika dihadapkan kepada sesuatu pemikiran, mengapa harus berpikir secara responsif tanpa menggunakan teknik-teknik berfikir secara mendalam untuk sebuah hasil yang sempurna
Tapi dari asal yang paling repot adalah asal bicara....., pernah ketika kecil saya membaca sebuah kalimat “Think to day and speak tomorrow” dan ini jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan manusia dengan manusia pada sebuah komunitas. Manusia muda yang tumbuh dan berkembang menjadi eksekutif, keperibadian dan sikapnya pun berkembang sejalan dengan tumbuhnya rasa percaya diri dalam kehidupannya, ada banyak yang mempunyai “self concept” tapi tak kurang yang tidak memiliki “self controll”, sehingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memiliki sifat “Superioriti Complex” menjadi paling tahu ..., paling bisa ..., paling bijaksana ...., dan banyak lagi. Siapa yang akan menyadari superioritinya jika self controllnya tidak jalan lalu bagaimana mengingatkannya .... tidak ada yang mampu mengingatkannya kecuali dirinya sendiri dan kesadarannya tentang etika kepemimpinannya, etika dalam menghargai dirinya sendiri sebagi seorang manusia yang dapat berbuat bagaimana menjadi seorang manusia dan dapat menghargai kehidupan manusia lain sehingga dapat menumbuh kembangkan semangat, gairah hidup dan motivasi pada manusia lain untuk menjadi manusia seutuhnya.
Sebuah tulisan yang asal jadi tapi semoga tidak memberikan manfaat yang asal-asalan
Tuesday, March 6, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
nice blog :)
btw: are yo alumnus SMA YAPINU Bandung??
Yanti Wyant....
Are you alumnus SMA YAPINU bandung too...?? I'am Alumnus SMA YAPINU 1990-1991.. Look at my web www.budysantoso.com
Post a Comment